Darurat Sampah Melanda Jakarta, Gema Cita Desak Pemprov Optimalisasi Pengelolaan

Jakarta, PERPEK.CO : Menggunungnya sampah di berbagai sudut Jakarta belakangan ini menjadi alarm bahwa pengangkutan ke titik pembuangan saja tak cukup. Jakarta membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih optimal serta kesadaran warga memilah dari hulu, agar keterbatasan fasilitas di hilir tak selalu berujung pada penumpukan limbah.

Di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, volume sampah membengkak hingga 6.970 ton atau setara dengan deretan 410 truk tronton. Lonjakan ini dipicu oleh kendala teknis armada pengangkutan yang terjadi sejak 9 Maret 2026.

Selain itu, di tempat lain tumpukan sampah di tempat penampungan sementara (TPS) Waduk Cincin, Papanggo, Tanjung Priuk, Jakarta Utara terlihat meluber hingga keluar area TPS. Bau menyengat tercium hingga 20 meter Senin, (6/4/2026) sampah menumpuk hingga setinggi sekitar dua meter dan meluas ke luar area penampungan.

Volume sampah Jakarta menghasilkan sekitar 8.700 ton sampah per hari, dengan total sampah di Bantargebang mencapai 55 juta ton.

Hal ini mendapat sorotan dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya dari Gerakan Masyarakat Cinta Jakarta (Gema Cita) yang Mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan sampah Jakarta yang telah memasuki status darurat sampah agar dapat mengoptimalkan pengelolaan sampah di Jakarta dan mengajak peran serta masyarakat untuk peduli sampah dengan mengurangi sampah serta memaksimalkan daur ulang sebagai upaya untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap aktifitas pengelolaan sampah dan Lingkungan. kata Ketua umum Gema Cita, Hilman Firmansyah kepada Wartawan Rabu, (8/4/2026).

Hilman menjelaskan berdasarkan catatan KLHK yang menjelaskan bahwa jumlah timbunan sampah secara nasional sebanyak 184.000 ton per hari (0,8 kg per kapita). Sumber sampah berasal dari rumah tangga 48% dan pasar tradisional 24%. Jenis sampah yang paling banyak yaitu 60% organik layak kompos, 14% plastik, dan 9% kertas. Kemudian produksi sampah plastik Indonesia sebanyak 5,4 juta ton per tahun. Jenis barang yang sering diterima menggunakan kantong plastik: makanan dan minuman; alat mandi dan kosmetik; pakaian; barang rumah tangga; dan buku.

“Berdasarkan data KLHK komposisi sampah yang dibuang dari rumah tangga: 39,68% sisa makanan, 13,99% kayu/ranting, plastik 17,01%, kertas/karton 12,01%. Rumah tangga penyumbang terbesar, yaitu 62%, pasar tradisional 13%, pusat perniagaan 7%, perkantoran 5%, kawasan 4%, fasilitas publik 3%, dan sisanya 6% berasal dari lainnya. dan diperkirakan terdapat 300 lembar kantong plastik dalam satu gerai perhari. Jika terdapat 100 gerai dikalikan satu tahun atau 365 hari, jumlahnya sebanyak 10,95 juta lembar sampah kantong plastik,” papar Hilman.

“Berdasarkan Data riset Sustainable Waste Indonesia (SWI), Sebanyak 24% sampah di Indonesia tidak terkelola. Hanya 7% yang didaur ulang, dan 69% berakhir di TPA. Sementara berdasarkan hasil riset dari Peneliti Jenna Jambeck mengatakan, tidak ada satu negara pun yang dapat mendaur ulang sampah plastik 100%,” terangnya.

Indonesia daur ulang plastik kurang dari 11% dan botol Polyethylene Terephthalate (PET) 50%. banyak sampah yang tidak terkelola oleh pemerintah. Tumpukan sampah pun sampai memadati sungai hingga lautan.

“Faktanya masih banyak yang membuang sampah sembarangan, terutama di tepi saluran air atau bahkan di sungai,” ujar Hilman.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun, di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. 80 % sampah di laut berasal dari daratan, 70 % di antarnya adalah plastik.

Selain itu, Indonesia juga sebagai negara pembuang makanan terbanyak di dunia. Studi The Economist Intelligence Unit 1 menyebutkan Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 300 kg per orang per tahun. Angka ini mengungguli Amerika Serikat yang membuang 277 kilogram dan hanya kalah dari Saudi Arabia sebanyak 427 kg/tahun.
Data Bappenas 2021, sampah makanan di Indonesia adalah 115-184 kg per kapita per tahun.

Terdapat beberapa cara dalam mengurangi sampah, Misalnya cara mengurangi sampah plastik yaitu menggunakan dan memanfaatkan tas kantong plastik belanja dari kain. Kemudian memanfaatkan barang berbahan plastik bekas untuk dibuat aneka barang kerajinan atau digunakan dalam bentuk lain.

Lalu mengembangkan produk plastik yang sehingga penggunaannya dapat berlangsung lebih lama.
Mengembangkan teknologi atau inovasi bahan pengganti plastik atau mendaur ulang plastik.

Hilman meminta Pemprov DKI Jakarta agar melakukan optimalisasi pengelolaan sampah dengan cara 3R: Reduce (Mengurangi), Reuse (Pakai ulang), Recycle (Daur ulang).

Hal yang menjadi kunci utama pengelolaan sampah dengan cara memisahkan dipisahkan. Pengolahan sampah organik dengan cara ditanam ke dalam tanah. Pengelolaan tanah secara organik dengan cara: tanah dilubangi, diperkuat tebingnya, diurug tanahnya, dan diberi penutup. Dibuat empat sampai lima lubang dipakai bergantian. Kemudian bisa dibuat lorong serang dapur (Loseda), komposter semi Aeorob, dan saluran resapan biopori. Resapan air hujan dan pengolahan sampah. Satu lubang di daerah curah hujan 50 mm/jam, maka laju resapan 180/jam, maka untuk lahan 100 m2 butuh (50 X 100)/180 = 28 lubang. Sampah yang ditampung lubang diameter 10cm dalam 100 cm adalah 7,8 liter atau sampah 2-3 hari.

Sampah digunakan untuk komposting, seperti diolah pupuk organik kompos. Pengolahan dengan dengan cacing atau vermicompost. Cacing bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan atau untuk bahan baku obat sampah organik yang diolah dengan cacing.

Selain itu, bisa juga digunakan kompos. Nilai ekonomi lebih tinggi, per kilogramnya bisa mencapai Rp50.000.

Kemudian bisa menggunakan Inovasi Pengolahan Sampah Organik Maggot Lalat BSF (Black Soldier Fly). Pengolahan dengan dengan Maggot (belatung) lalat BSF. Hasil akhir Maggot dan kompos. Maggot bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan atau ternak. Pengurangan sampah organik juga bisa dilakukan dengan cara melakukan gerakan makan secukupnya dan jangan sisakan makanan.

Selanjutnya, terdapat Peraturan Gubernur (Pergub) DKI nomor 142 tahun 2019 Tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan. Regulasi ini dapat membuat 82 % pengurangan di tiga subyek hukum: pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat. Lalu, 42% pengurangan kantong plastik sekali pakai yang terjadi di rumah tangga. “Jadi pengolahan sampah harus dari hulu dulu, lalu hilir penanganannya.” tegas Hilman.

Gema Cita mengajak Masyarakat Jakarta untuk peduli persoalan sampah dan menjadi perhatian utama untuk sejumlah upaya penanganan dan pengelolaan sampah diseluruh wilayah kota Jakarta.

“Dan juga mendorong agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta fokus pada percepatan pengangkutan dan pembangunan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) serta memaksimalkan RDF sebagai solusi jangka panjang,” pungkas Hilman Firmansyah. (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *