Jakarta, Perpek Media – Masa depan gerakan pemuda dan remaja masjid tidak cukup hanya dibangun melalui banyaknya kegiatan keagamaan. Diperlukan ekosistem yang kuat, tata kelola organisasi yang profesional, kaderisasi berkelanjutan, serta kemandirian dalam mengelola sumber daya. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Workshop Manajemen Organisasi Pemuda dan Remaja Masjid yang diselenggarakan Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) DKI Jakarta bersama Biro Pendidikan dan Mental Spiritual (Dikmental) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (7/11/2026), di Hotel Alia Matraman, Jakarta Timur.
Kegiatan yang diikuti 120 pemuda dan remaja masjid dari berbagai wilayah di DKI Jakarta ini menjadi momentum untuk mendorong transformasi gerakan remaja masjid agar tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga mampu membangun organisasi yang memiliki sistem, kapasitas, dan keberlanjutan.
Workshop diawali dengan sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat JPRMI, Iswahyudi RZ, S.Sy., M.H. Selanjutnya, Ustaz Otong Sumantri selaku Dewan Pendiri JPRMI menyampaikan materi tentang Fondasi, Visi, dan Kepemimpinan Pemuda Remaja Masjid Era Abad 21.
Materi berikutnya disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PP JPRMI, Adi Syahputra, S.Pd., M.I.Kom., dengan tema Tata Kelola Organisasi Modern dan Strategi Dakwah Kreatif Berbasis Digital.
Kedua materi tersebut memberikan perspektif penting bahwa kekuatan gerakan remaja masjid tidak hanya terletak pada semangat dan militansi kader, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem organisasi yang terarah, adaptif, dan profesional.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menyelenggarakan Kegiatan
Salah satu tantangan organisasi remaja masjid saat ini adalah bagaimana membangun gerakan yang tidak bergantung pada figur tertentu, tidak berhenti ketika kepengurusan berganti, serta tidak hanya hidup ketika ada kegiatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan ekosistem pemberdayaan yang saling terhubung dan berjalan secara berkelanjutan.
Setidaknya terdapat lima pilar penting dalam membangun ekosistem remaja masjid.
Pertama, penguatan sumber daya manusia dan kaderisasi. Remaja masjid harus memiliki sistem rekrutmen, pembinaan, peningkatan kompetensi, dan regenerasi kepemimpinan yang terstruktur.
Kedua, profesionalisme tata kelola organisasi. Setiap organisasi perlu memiliki visi dan target yang jelas, pembagian tugas dan tanggung jawab, standar operasional, perencanaan program, serta sistem evaluasi dan pelaporan yang terukur.
Ketiga, pengembangan kompetensi dan produktivitas kader. Remaja masjid perlu dibekali keterampilan kepemimpinan, komunikasi, kewirausahaan, literasi digital, manajemen kegiatan, serta kemampuan profesional yang dapat menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.
Keempat, kemandirian ekonomi dan pengelolaan sumber daya. Organisasi perlu mulai membangun unit usaha, kemitraan strategis, program fundraising, serta kolaborasi dengan berbagai pihak agar memiliki sumber pendanaan yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Kelima, kolaborasi dan jejaring pemberdayaan. Masjid, organisasi kepemudaan, pemerintah, dunia pendidikan, komunitas profesional, dan sektor usaha perlu terhubung dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Kelima pilar tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya organisasi remaja masjid yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam kapasitas sumber daya manusia, profesional dalam pengelolaan, serta mandiri dalam menjalankan program-program pemberdayaan.
Dari Aktivisme Menuju Gerakan yang Berdampak
JPRMI DKI Jakarta memandang bahwa masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembinaan generasi muda, pengembangan kepemimpinan, pendidikan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma dari sekadar membangun aktivitas menuju pembangunan ekosistem. Setiap kegiatan harus menjadi bagian dari proses pembinaan, setiap kader harus memiliki ruang untuk berkembang, dan setiap organisasi harus memiliki kemampuan untuk tumbuh secara mandiri.
Dengan demikian, keberhasilan organisasi remaja masjid tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari kualitas kader yang dihasilkan, sistem organisasi yang dibangun, kemandirian yang dicapai, serta manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Melalui workshop ini, JPRMI DKI Jakarta berharap 120 peserta dapat menjadi agen penggerak perubahan di wilayah masing-masing dan mulai mengimplementasikan tata kelola organisasi yang lebih profesional.
Kolaborasi dengan Biro Dikmental Pemprov DKI Jakarta diharapkan menjadi bagian dari penguatan sinergi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan dalam menciptakan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kontribusi nyata bagi pembangunan Jakarta.
Karena masa depan gerakan remaja masjid tidak cukup dibangun dengan semangat hari ini. Ia harus dibangun dengan sistem yang kuat, kader yang berkualitas, ekosistem yang saling menguatkan, serta kemandirian yang berkelanjutan.(Hendriyawan)
